Jumat, 24 Mei 2013

Contoh Makalah Aplikasi Radiasi Sinar-X di Bidang Kedokteran



Abstrak
Radiasi sinar-X merupakan suatu gelombang elektromagnetik dengan gelombang pendek Gelombang elektromagnetik banyak jenisnya antara lain sinar lampu, ultra violet, infra merah, gelombang radio, dan TV. Sinar-X mempunyai daya tembus yang cukup tinggi terhadap bahan yang dilaluinya. Dengan demikian sinar-X dapat dimanfaatkan sebagai alat diagnosis dan terapi di bidang kedokteran nuklir. Perangkat sinar-X untuk diagnosis disebut dengan photo Rontgen sedangkan yang untuk terapi disebut Linec (Linier Accelerator). Dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka photo Rontgen dapat di tingkatkan fungsinya lebih luas yaitu melalui alat baru yang disebut dengan CT. Scan (Computed Tomography Scan). Adanya peralatan peralatan yang menggunakan sinar-X maka akan membantu dalam mendiagnosis dan pengobatan (terapi) suatu penyakit, sehingga dapat meningkatkan  kesehatan masyarakat. Untuk di tingkat daerah peralatan yang menggunakan sinar-X masih terbatas hanya pada pesawat Rontgen. Karena pesawat radioterapi membutuhkan catu daya listrik yang cukup besar, pada hal sumber listrik di daerah relatip masih rendah. Oleh sebab itu pembahasan disini lebih dititik beratkan  pada penggunaan sinar-X untuk pesawat Rontgen.
Kata kunci : sinar-X, Photo Rontgen, CT-scan, Linac.
A.    Pendahuluan
Sinar-X ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontgen seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1895. Penemuanya diilhami dari hasil percobaan percobaan sebelumnya antara lain dari J.J Thomson mengenai tabung katoda dan Heinrich Hertz tentang foto listrik. Kedua percobaan tersebut mengamati gerak elektron yang keluar dari katoda menuju ke anoda yang berada dalam tabung kaca yang hampa udara.
Pembangkit sinar-X berupa tabung hampa udara yang di dalamnya terdapat filament yang juga sebagai katoda dan terdapat komponen anoda. Jika filamen dipanaskan maka akan keluar elektron dan apabila antara katoda dan anoda diberi beda potensial yang tinggi, elektron akan dipercepat menuju ke anoda. Dengan percepatan elektron tersebut maka akan terjadi tumbukan tak kenyal sempurna antara elektron dengan anoda, akibatnya terjadi pancaran radiasi sinar-X.
Pemanfaatan sinar-X di bidang kedokteran nuklir merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Aplikasi ini telah cukup beragam mulai dari radiasi untuk diagnostik, pemeriksaan sinar-X gigi dan penggunaan radiasi sinar-X untuk terapi. Radioterapi adalah suatu pengobatan yang menggunakan sinar pengion yang banyak dipakai untuk menangani penyakit kanker. Alat diagnosis yang banyak digunakan di daerah adalah pesawat sinar-X (photo Rontgen) yang berfungsi untuk photo thorax, tulang tangan,kaki dan organ tubuh yang lainnya. Alat terapi banyak terdapat di rumah sakit-rumah sakit perkotaan karena membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Di negara maju, fasilitas kesehatan yang menggunakan radiasi sinar-X telah sangat umum dan seringdigunakan.
Radiasi di bidang kedokteran membawa manfaat yang cukup nyata bagi yang menggunakannya. Dengan radiasi suatu penyakit atau kelainan organ tubuh dapat lebih awal dan lebih teliti dideteksi, sementara terapi dengan radiasi dapat lebih memperpanjang usia penderita kanker atau tumor.
B.     Pembahasan
1.      DASAR PERCOBAAN SINAR-X
Peristiwa terjadinya sinar-X diawali dari percobaan Heinrich Hertz pada tahun 1887 dengan menggunakan tabung hampa yang berisi katoda dan anoda. Katoda dan anoda dihubungkan dengan sumber listrik E. Pada tegangan, E, yang rendah tidak ada arus elektron dari katoda ke anoda yang dapat dilihat dari galvanometer.
Pada saat katoda disinari gelombang pendek elektromagnetik ternyata dari katoda keluar elektron menuju anoda yang diamati dari galvanometer. Arus yang terbaca di Galvanometer adalah arus yang sangat kecil dalam order mikro ampere. Peristiwa di atas disebut dengan efek foto listrik. Kecuali disinari dengan gelombang pendek elektron dapat keluar dari katoda dengan cara dipanaskan sehingga terjadi emisi thermis. Jadi dengan cara dipanaskan atau diberi gelombang pendek elektromagnetik katoda dapat memancarkan elektron lebih banyak.
Makin pendek gelombang elektromagnetik yang menumbuk katoda, maka makin besar arus yang mengalir dan sebaliknya makin panjang gelombangnya, makin kecil arus yang terbaca di galvanometer. Hal demikian dapat dipahami karena bila gelombang elektromagnetik panjang gelombangnya makin pendek berarti frekuensinya makin besar dan energinya juga makin besar. Gambar 1. menunjukkan alat foto listrik.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzGN5bKXUjrnnmj19bkVCNnWRVER-warHxp9CLaCJY8A7E3cElAiB962kQsS-sE75mnVJc7QKgq-dnaurUVLgV35YiVBvghrCIHYAFpYZHiZsXqZwPExoJ-bvuOCigknnnQLdni171IrB0/s1600/untitled.bmp

Gambar 1. Alat Foto Listrik
Karakteristik gelombang elektromagnetik ditentukan oleh panjang gelombang, frekuensi, dan kecepatan. Kecepatan rambat gelombang elektromagnetik di udara untuk semua panjang gelombang adalah sama yaitu sama dengan kecepatan dalam ruang hampa c = 3 1010cm/det.
C = v × λ
dengan :
c : Kecepatan rambat dalam hampa (cm/det)
v : Frekuensi gelombang (cycle/det)
λ : Panjang gelombang, (cm)
Pemancaran energi radiasi elektromagnetik oleh sumbernya tidak berlangsung secara kontinyu melainkan secara terputus-putus (diskrit), sehingga berupa paket yang harganya tertentu yang disebut dengan kuanta/foton. Besar energi kuanta tergantung pada frekuensi gelombang.
E =h ×v

dengan :
E : Energi foton, (eV)
      h : Tetapan Max Plank, (Joule/det)
v : Frekuensi gelombang, (cycle/det)




1.      TERJADINYA SINAR-X
Pada peristiwa terjadinya tumbukan tak kenyal sempurna antara elektron dengan atom anoda (targed) akan terjadi dua hal sebagai berikut.
1.      Terjadi radiasi yang dikenal dengan “bremstrahlung” yaitu elektron yang mendekati atom targed (anoda) akan berinteraksi dengan atom bahan anoda, tepatnya dengan elektron luar atom tersebut. Ia mengalami perlambatan sehingga mengeluarkan radiasi. Radiasi ini memiliki aneka ragam panjang gelombang, oleh karena itu proses bremstrahlung dapat dialami elektron berulang kali, sehingga spectrum radiasi ini bersifat kontinyu. Spektrum sinar-X bremstrahlung seperti terlihat pada Gambar 2.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHZWC-BuJbR6UoSEbXKO9RZ4IrwAnZ1ogfRmLhTjaGIQzGY87El9jtzN6UOCTT8sALgpw6wEKHAq6HEWIJ8sf0fqZq3e3Ri9VSfTyg9Fv3dABT4wmsS9zDthFheTbnc-f32ientRhtkulG/s1600/2.bmp
 Gambar 2. Spektrum sinar-X[4]

Peristiwa tumbukan antara elektron dengan atom anoda dapat dilihat pada Gambar 3.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnxKGewL8Y_Hd_p4rpvbSALJ5_cUd7pDulWEriVaojexqHlf-EpnrI3R7OY4zbIomQJVXQXjbEV7JSEWHiWdB6B8BnGNlHN4BefeKVgsE4jbwmxfCp919iBPzS7I1frBZ61JuGfzQGvaE3/s320/3.bmp
Gambar 3. Tumbukan Antara Elektron dengan Anoda

2.      Elektron yang mendekati atom didalam anoda berinteraksi dengan elektron dalam atom tersebut, berupa tumbukan tak kenyal sempurna, akibatnya elektron anoda terlepas dari kulitnya. Atom tertinggal dalam keadaan bereksitasi yang dalam keadaan tidak stabil. Maka terjadilah (dalam waktu 10-8 detik) pengisian kekosongan itu oleh elektron-elektron yang lebih luar. Perpindahan kulit yang luar ke kulit yang dalam disertai pancaran radiasi dengan panjang gelombang tertentu, maka radiasi ini bersifat diskrit. Interaksi elektron dengan atom anoda dapat dilihat pada Gambar 4.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsWYKqVhXEVNbgBStCq58GBWQIpGQz-PzlzVDqR3m0OZRCfJ3nQOo1xymP6o16Q8P4rXe2OfapbwudQw_OrdnU1wXCZLm5QE6tvF3nwwTA4Ii33RgA0N4hchdxGN1S-WLfTQ8hAXgP_A40/s320/4.bmp

Gambar 4. Interaksi Elektron dengan Atom Anoda
2.      FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA CITRA
a)      Pengaruh Arus (mA)
Arus akan berpengaruh pada intensitas sinar-X atau derajat terang/brighnees. Dengan peningkatan mA akan menambah intensitas sinar-X dan sebaliknya. Oleh sebab itu derajat terang dapat diatur dengan mengubah mA.
1.      Pengaruh jarak dan waktu pencitraan (exposure)
Di samping arus (mA) jarak dan waktu pencitraan juga berpengaruh pada intensitas. Waktu exposure yang lama juga akan meningkatkan intensitas dari sinar-X. Untuk itu dalam setiap pengoperasian pesawat sinar-X selalu dilakukan pengaturan waktu (S) dan arus (mA) atau biasa disebut dengan mAS yang bergantung pada obyek yang disinari. Jika tabung didekatkan pada obyek maka intensitas akan naik dan hasil gambar jelas dan terang. Sebaliknya jika tabung dijauhkan dari obyek maka intensitas akan menurun. Dari sini dapat disimpulkan bahwa cahaya dan sinar-X merambat dalam pancaran garis lurus yang melebar.
2.      Pengaruh Tegangan (kV)
Tegangan tinggi merupakan daya dorong elektron di dalam tabung dari katoda ke anoda. Supaya dapat menghasilkan sinar-X daya dorong ini harus kuat sehingga mampu menembus obyek. Dengan demikian perubahan kV sangat berpengaruh terhadap daya tembus sinar-X.
b)     Penyerapan Sinar-X
Penyerapan sinar-X oleh suatu bahan tergantung pada tiga faktor sebagai berikut.
a. Panjang gelombang sinar-X
b. Susunan obyek yang terdapat pada alur berkas sinar-X
c. Ketebalan dan kerapatan obyek
Jika kV rendah maka akan dihasilkan sinar-X dengan gelombang yang panjang dan sebaliknya dengan kV tinggi maka panjang gelombang sinar-X akan semakin pendek.
Penyerapan sinar-X oleh suatu bahan juga tergantung pada susunan obyek yang dilaluinya, sedangkan susunan obyek tergantung pada nomor atom unsur, misalnya nomor atom alumunium lebih rendah dari nomor atom tembaga. Ternyata penyerapan sinar-X alumunium lebih rendah dari penyerapan sinar-X oleh tembaga. Timah hitam mempunyai nomor atom yang besar, maka daya serap terhadap sinar-X juga besar. Ketebalan dan kerapatan suatu unsur bahan juga berpengaruh terhadap penyerapan sinar-X. Bahan yang tebal akan lebih banyak menyerap sinar-X dibanding dengan bahan yang tipis, tentunya pada unsur yang sama.
Penyerapan sinar-X oleh tubuh manusia pada proses photo Rontgen dapat dijelaskan sebagai berikut. Tubuh manusia dibentuk oleh unsur-unsur yang sangat komplek. Oleh sebab itu, penyerapan sinar-X oleh tubuh pada proses Rontgen tidak sama, misalnya tulang akan lebihbanyak menyerap sinar-X dibanding dengan otot atau daging. Bagian tulang yang sakit atau daging akan lebih besar menyerap sinar-X dibanding kondisi normal. Usia juga akan menjadi penyebab perbedaan penyerapan sinar- X. Tulang orang tua yang telah kekurangan kalsium, maka penyerapan sinar-X akan berkurang dibanding tulang anak muda.
c)      Terbentuknya Sinar-X pada Pesawat Sinar-X
Untuk keperluan diagnostik sendiri, citra (image) sinar-X diperoleh pada permukaan film fotografi. Citra terbentuk karena terjadi perbedaan intensitas sinar-X yang datang (sampai) ke film setelah di’lewat’kan melalui bagian tubuh yang difoto. Bagian tubuh yang lebih rapat dan mengandung unsur kimia tertentu dapat bereaksi dengan sinar-X dan menyebabkan kuantitas sinar-X yang sampai ke film menjadi berkurang. Contoh kasusnya adalah pada pemotretan organ tulang. Tulang mengadung banyak unsur kimia kalsium (Ca) dan unsur kalsium menyerap banyak partikel sinar-X sehingga menyebabkan berkurangnya sinar-X yang tiba di film pada daerah yg terhalangi tulang tersebut. Hasilnya adalah citra berwarna putih sebagai gambaran tulang pada film, sedangkan organ lainnya akan dilewatkan begitu saja dan menghitamkan film.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifKh4CqWLxyV8iTxdjIpjo-IKqTh1bWiapzo7I041-yUzUDuDnTjQpUMAaLyvDxiANzQIeMQDEwJT7Elkz8LnSe4FQ3XD44W8SgvCt6r2MTv64m4wv6qVt24YfANsuBf2EK1QxaePvT2jD/s1600/5.bmp
Sebuah foto sinar-X (radiograf) diambil oleh Rontgen


Pada aplikasinya, penciptaan sinar-X tak lagi mengandalkan mekanisme tabung Crookes, melakinkan dengan menggunakan pesawat sinar-X modern. Pesawat sinar-X modern pada dasarnya membangkitkan sinar-X dengan mem’bombardir’ target logam dengan elektron berkecepatan tinggi. Elektron yang berkecepatan tinggi tentunya memiliki energi yang tinggi, dan karenanya mampu menembus elektron-elektron orbital luar pada materi target hingga menumbuk elektron orbital pada kulit K (terdekat dengan inti). 
Elektron yang tertumbuk akan terpental dari orbitnya, meninggalkan hole pada tempatnya semula. Hole yang ditinggalkannya itu akan diisi oleh elektron dari kulit luar dan proses itu melibatkan pelepasan foton (cahaya elektromagnetik) dari elektron pengisi tersebut. Foton yang keluar itulah yang kemudian disebut sinar-X, dan keseluruhan proses terbentuknya sinar-X melalui mekanisme tersebut disebut mekanisme sinar-X karakteristik. 
Adapun mekanisme lain yang mungkin terjadi adalah emisi foton yang dialami oleh elektron cepat yang dibelokkan oleh inti atom target atas konsekuensi dari interaksi Coulomb antara inti atom target dengan elektron cepat. Proses pembelokkan ini melibatkan perlambatan dan karenanya memerlukan emisi energi berupa foton. Mekanisme ini disebut Bremsstrahlung (bahasa Jerman dari ‘radiasi pengereman’).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoLUAsqoKetYLe86xih96WiSbzM_zRWNt6rbnPWn5IEWhT6_x3JXCwA4ncwo4JK_aMLo1TEitp5lxvtOu4tFjSkCiY5syGXmZmcvQmbYT0rnsDkygu99SjJ9fKWJeFdUOiN46YZ2vxTfeS/s1600/6.bmp
Ilustrasi proses terbentuknya sinar-X baik Bremsstrahlung maupun sinar-X karakteristik 





Selanjutnya, pesawat sinar-X modern memanfaatkan kedua kemungkinan di atas untuk memungkinkan produksi sinar-X.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlbnYQSQhEl4V5AUvbtn561_57ddzSmwrIBLcvOo675uKz8N6gxvPRxHL19AaRAUeUWbdHn8Pcww0QCuaZw9_XublIQYOldfBRZy563eoC7dxlznyHLKARbMbw8NhGuSGgLP8YPheVnCiI/s1600/7.bmp


Seperti terlihat pada gambar ilustrasi, beda potensial antara anoda dan katoda dibuat sedemikian rupa sehingga mencapai angka yang cukup untuk membuat elektron melompat dengan kecepatan tinggi setelah katoda diberi energy (biasanya 1000 Volt). Setelah elektron pada katoda melompat dan menghantam filamen pada anoda, terjadilah sinar-X yang terjadi dengan mekanisme sinar-X karakteristik ataupun Bremsstrahlung
Karena filamen pada anoda dimiringkan ke bawah, foton sinar-X akan menuju ke bawah, keluar dari pesawat sinar-X lalu melewati jaringan yang dipotret. Bayangan/citra pun terbentuk pada film yang diletakkan di bawahnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAuYRrV97ardF_aEb-F9n3_w1tZovRp5kcksEwzvlfiK4YQPnuOY-kQkNggXA-iW_ARxDUsbwezdby9w32I8c1BpnpZC1b4jPxpzYlt5ZJjiOUmeXjrplBQfZcFGrBsqXHVdHUNPrtlYhE/s320/8.bmp
Gambar RangkaianPesawat Rontgen Konvensional.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmQLNdsIFIDm-E0oTLKZmVbm4GTA4MzhGjSnK9oSEt4gJUguuyKnMaUT0R7bvucw9VNSspMf-T7GbXG7bSVDRew_1rBGtK0SVe_w6drycNdQaOmqxN_Dg5MkhEBh7Nb1zjLE28PjWNgkk7/s320/9.bmp

Gambar 6. Blok rangkaian tabung rontgen



Tidak ada komentar:

Posting Komentar